Tentang Pendidikan

"Be Teacher Of The World"

Donload

  • Beranda

Rabu, 14 September 2011

Posts by : Admin

Kompetensi komunikator


 THE LADIES UNBARA  TP A.4.5








Adapun kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang komunikator adalah sebagai berikut :
1.      Persiapan
Komunikasi dapat efektif (berpengaruh pada publik peneroma/komunikan), jika direncanakan dan dilaksanakan dengan baik melalui tahap-tahap sebagai berikut:
v  Mengenal publik
Mengenali publik pada hakikatnya adalah mengenali pendapat umum yang berkembang pada komunitas komunikan. Pengenalan publik bisa dilakukan berdasar kerangka pengalaman dan kerangka refrensi melalui observasi dan penelitian.
v  Menyusun pesan
Penyusunan pesan yang dikenal dengan singkatan AIDDA (Attention/perhatian, Interest/kepentingan, Desire/hasrat atau keinginan, Decision/keputusan, Action/tindakan).
v  Menetapkan metode
Selanjutnya metode yang dipilih disesuaikan dengan pengetahuan tentang publik/penerima (komunikan), yaitu; informatif, edukatif, persuasif, dan instruktif (memaksa).
v  Seleksi dan penggunaan media
Pemilikan media harus tepat sasaran sesuai dengan kondisi publik/penerima, seperti terhadap masyarakat pedesaan dapat menggunakan komunikasi tatap muka (anjangsana, dialog, dll).
2.      Pengeatahuan
Pengetahuan menentukan tingkat kesadaran atau pemahaman seseorang tentang kebutuhan apa yang harus dilakukan dalam rangka komunikasi secara tepat dan efektif, komponen pengetahuan turut menentukan kompotensi komunikasi karena hal ini berkaitan erat dengan tingkat kesadaran terhadap apa yang dibutuhkan untuk berkomunikasi dengan orang lain
Tingkat pengetahuan komunikan juga hal yang sangat mempengaruhi ke-efektifan komunikasi dari faktor komunikan. Dalam hal ini pengetahuan yang harus dimiliki oleh komunikan adalah tentang sumber komunikasi, bahasa yang digunakan dalam komunikasi, tulisan, isyarat yang dipergunakan komunikator dan pengetahuan dasar yang menyangkut materi penyuluhan
Semakin tinggi pengetahuan tentang materi atau isi pesan yang ditransaksikan dalam sebuah penyuluhan akan semakin tinggi ke-efektifan sebuah komunikasi penyuluhan. Dalam mendukung komunikasi efektif sebaiknya penyuluhan dimulai dari hal-hal yang diketahui oleh komunikan.

3.       Keterampilan
Kemampuan dapat membimbing kita untuk mengahdirkan sebuah prilaku tertentu yang cukup dan mampu mendukung proses komunikasi secara tepat dan efektif. Tujuan utama dari keterampilan semata-mata untuk mengurangi tingkat ketidakpastian dan kecemasan. Untuk mengurangi ketidakpastian setidaknya seseorang harus mempunyai keterampilan empati, berprilaku seluwes mungkin dan kemampuan untuk mengurangi situasi ketidakpastian itu sendiri.
4.      Response Trait  atau Derajat
Tatkala berkomunikasi dengan seseorang dari kebudayaan lain, maka komunikator harus menampilkan perangai (trait) tertentu, ingatlah bahwa perangai tidak saja dibentuk oleh faktor-faktor internal individu tetapi juga dipengaruhi faktor-faktor sosial. Itulah yang disebut Internal Response Trait yaitu derejat (tinggi atau rendah) kestabilan disposisi dan konsistensi disposisi individu untuk merespons karakteristik orang lain.

5.      Pendekatan terhadap kebudayaan tertentu.
Jika kita ingin meningkatkan komunikasi dengan orang lain dari kebudayaan lain maka yang dilakukan adalah mempelajari kebudayaan, belajar tentang nilai, norma, kepercayaan, bahasa (verbal dan non verbal) struktur pengetahuan, system social dan budaya, system ekonomi, mata pencaharian, dan adapt istiadat.

6.      Kredibilitas Tinggi
Kredibilitas menurut Aristoteles, bisa diperoleh jika seorang komunikator memiliki ethos, pathos dan logos. Ethos adalah kekuatan yang dimiliki pembicara dari karakter pribadinya, sehingga ucapan-ucapannya dapat dipercaya. Phatos ialah kekuatan yang dimiliki seorang pembicara dalam mengendalikan emosi pendengarnya, sedangkan logos ialah kekuatan yang dimiliki komunikator melalui argumentasinya.
Sedangkan James Mc-Croskey menjelaskan bahwa kredibilitas seorang komunikator dapat bersumber  dari kompetensi (competence), sikap (charracter), tujuan (intention), kepribadian (personality), dan dinamika (dynamic). Kompetensi ialah penguasaan yang dimiliki oleh seorang komunikator pada masalah yang dibahasnya. Seorang dokter misalnya lebih berkompeten bicara tentang kesehatannya daripada seorang Insinyur Teknik Sipil, begitu juga sebaliknya. Sikap ialah menunjukkan pribadi komunikator, apakah ia tegar atau toleran dalam sebuah prinsip. Tujuan menunjukkan apakah hal-hal yang disampaikan seorang komunikator punya maksud baik atau tidak. Kepribadian menunjukkan apakah pembicara memiliki pribadi yang hangat dan bersahabat. Sedangkan dinamika adalah menunjukkan apakah hal yang disampaikan itu menarik atau sebaliknya justru membosankan komunikan.
Menurut bentuknya kredibilitas dapat dibedakan atas tiga macam, yaitu :
a.       Initial Credibility, yakni kredibilitas yang diperoleh komunikator sebelum proses komunikasi berlangsung, misalnya pembicara yang sudah punya nama bisa mendatangkan banyak pendengar, atau tokoh terkenal macam GusDur tulisannya pasti akan dimuat di surat kabar, meski editornya belum membacanya.
b.      Derived Credibility, yakni kredibilitas yang diperoleh seseorang pada saat komunikasi berlangsung. Misalnya seorang SBY memperoleh tepukan dari masyarakat, karena pidatonya yang disampaikan bersifat menyenangkan hati para pendengarnya (masyarakat).
c.       Terminal Credibility, yakni kredibilitas yang diperoleh seorang komunikator setelah pendengar atau pembaca mengikuti ulasanya. Seorang komunikator yang ingin memperoleh kredibilitas perlu memiliki pengetahuan yang dalam, pengalaman yang luas serta adanya kekuasaan yang dipatuhi dalam status sosial yang dihargai.
Jadi pada dasarnya kredibilitas seorang komunikator bisa berubah jika terjadi perubahan khalayak, topik dan waktu. Artinya kredibilitas seorang pembicara pada suatu tempat belum tentu bisa  sama di tempat lain, kalau khalayaknya berubah. Demikian pula halnya dengan perubahan topik dan waktu, dalam hal ini komunikator bisa saja menguasai topik tertentu, tapi belum tentu dengan topik lain.
komunikator yang mempunyai kredibilitas tinggi dalam menyampaikan materi sering ditentukan oleh berbagai faktor, antara lain:
  1. Latar belakang pendidikan, pengetahuan dan pengalaman.
  2. Karakter yang dipunyai.
  3. Cinta dan bangga akan pekerjaan melakukan komunikasi yang diikuti ketekunan dalam melakukan pekerjaannya.
  4. Kepribadian yang ia miliki
  5. Tujuan melakukan komunikasi.
  6. Cara penyampaian. Penyampaian informasi dengan peraga, atau menggunakan gerak tangan atau alat lain sehingga mampu memikat pendengarnya.
Seorang komunikator agar memiliki kredibilitas saat menyampaikan informasi harus memiliki latar belakang pendidikan dalam bidang yang ia sampaikan, harus memiliki karakter yang rela berkorban, cinta dan bangga akan bidang yang ia tekuni, memiliki kepribadian yang empatis, memiliki tujuan dan memiliki cara penyampaian yang menarik.
Sikap mental akan mempengaruhi komunikan dalam berkomunikasi. Sikap mental berhubungan dengan rasa percaya diri. Dalam membentuk sikap mental yang baik dalam berkomunikasi, seorang  komunikator harus percaya diri. Selain percaya diri, komunikator juga harus menguasai pesan yang akan disampaikan, sehingga komunikator benar-benar siap dalam melakukan penyuluhan. Sikap mental yang baik dapat  dibentuk dari latihan berbicara di depan umum dengan latihan di depan cermin.
7.      Memiliki karakteristik
Adapun Karakteristik komunikator untuk melaksanakan komunikasi efektif adalah sebagai berikut:
Ø  Kepercayaan kepada Komunikator (source Credibility).
Kepercayaan kepada Komunikator ditentukan oleh keahliannya dan dapat tidaknya ia dipercaya. Atau kepercayaan masyarakat dapat tercipta manakala si komunikator dinilai punya pengetahuan, keahlian, atau pengalaman yang relevan dengan topic pesan yang disampaikan itu bersifat objektif.
Ø  Daya Tarik Komunnikator (Source Attractiveness)
Seorang komunikator akan mempunyai kemampuan untuk melakukan perubahan sikap melelui mekanisme daya tarik, jika komunikan merasa bahwa komunikator ikut seta dengan mereka dalam hubungannya dengan opini secara memuaskan
Ø   Kekuatan/Kekuasaan sumber (Source Power).
Kekuatan atau kekuasaan sumber terhadap pihak penerima, secara umum dapat terjadi melalui empat cara, yaitu:
·         Kharisma, yaitu factor bawaan yang melekat pada diri seseorang.
·         Wibawa otoritas, yaitu yang berkaitan dengan kedudukan atau otoritas formal.
·         Kompetensi/keahlian, yaitu sesuatu yang dapat diperoleh seseorang melalui proses belajar.
·         Compliance/pemenuhan, yaitu sumber dinilai punya kekuatan atau kekuasaan apabila ia mampu memberikan imbalan dan hukuman kepada penerimanya.

8.      Terampil dalam mengolah pesan
Ada beberapa cara yang diusahakan oleh komunikator dalam keterampilannya mengolah pesan, antara lain :
a.      Gambaran yang jelas
Sang komunikator hendaknya dapat memberikan gambaran yang jelas tentang apa yang ia sampaikan kepada penerima. Jika tidak, maka pembicara hanya akan terkesan bertele-tele sehingga para penerima tidak mengerti apa yang dimaksud oleh komunikator.
b.      Pesan yang bertahap
Hendaknya komunikator menyampaikan pesannya secara bertahap, dalam artian mengemukakan idenya satu persatu agar si penerima pesan bisa memahami apa yang disampaikan oleh komunikator. Jika komunikator menyampaikan banyak hal sekaligus maka penerima pesan akan lupa dengan sebagian pesan yang disampaikan, atau pesan yang disampaikan akan menjadi kacau.
c.       Prinsip pengulangan
Agar para penerima pesan dapat mengintegrasikan antara pesan yang satu dengan yang lain maka komunikator harus mengulangi pokok pembicaraan. Hal ini diupayakan untuk menghindari kebosanan komunikator bisa mengusahakannya dengan variasi kalimat yang berbeda namun memiliki maksud yang sama.
d.      Mengkaitkan hal yang baru dengan hal yang lama
Komunikator dalam mengemukakan suatu ide baru hendaknya mengkaitkan dengan hal- hal yang sudah diketahui oleh penerima dengan menunjukkan persamaan- persamaan atau perbedaan yang ada.


e.       Penekanan pada ide
Hal- hal yang menjadi tujuan dari komunikasi dan pokok- pokoknya yang utama hendaknya terfokus secara jelas dan jangan sampai tenggelam. Pemberian tekanan dapat dilakukan dengan memperketat suara dan nada yang berbeda dengan berhenti sebentar, dan gerakkan tangan atau badan.
f.        Humor
Penggunaan humor dalam seminar juga merupakan bagian penting. Sabagian menganjurkan humor digunakan di awal pembukaan. Karena hal ini dapat membuat para pendengar merasa santai atau rileks dan komunikator pun lebih dapat diterima. Hal yang sama juga perlu dilakukan pada akhir acara, sehingga para pendengar bisa pulang dengan suasana gembira dan tersenyum. Namun hal ini ternyata harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Perlu diingat juga bahwa penggunaan humor ini adalah semata- mata untuk membangun keakraban dan kenyamanan antara komunikator dengan pendengar. Bukan humor yang berlebihan seperti lawakan.


Sumber :
Suryana Agus. 2004. Kiat dan Teknik Evaluasi Pelatihan. Ed. Ke-1. Progress. Jakarta.  Hal. 8.
Djamra S. B. 2004. Pola Komunikasi Orang Tua dan Anak dalam Keluarga. Ed. Ke-1. PT Rineka Cipta. Jakarta. Hal. 14.
Cangra Hafied. 1998. Pengantar Ilmu Komunikasi. Ed. Ke-1. PT Raja Grafindo. Jakarta.                     Hal. 89, 95-100, dan 126.
Ø Anoraga Panji. 2003. Psikologi Kepemimpinan. Ed. Ke- 4. PT Rineka Cipta. Jakarta.                            Hal. 64-70.
Mulyara E. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Ed. Ke-1. Rosa. Bandung. Hal. 37-38.
http://alexa08.student.ipb.ac.id/2010/06/20/komunikasi-efektif-dalam-penyuluhan/
http://dinasweblog.blogspot.com/2010/05/efektivitas-dalam-berkomunikasi.html





0 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Sabtu, 03 September 2011

Posts by : Admin

Rahasia Tampil Cantik Alami


Rahasia Tampil Cantik Alami
 
Berhenti berdandan, lepaskan sepatu, dan biarkan rambut tergerai bebas. Tampil alami tidak pernah lebih in, padahal ini lebih mudah dibanding yang Anda bayangkan.
Rahasianya tidak terdapat dari botol-botol peningkat kecantikan tetapi pada dasarnya ditemukan kembali dari bagaimana Anda tertawa dan memiliki waktu yang tepat. Tidak ada yang mengatakan cantik itu adalah pipi yang merah dan sintal, mata yang bersinar dan mulut menengadah, karenaya lepaskan berdandan dan cobalah beberapa pendorong tampil cantik alami berikut yang akan membuat Anda merasa sensasional dan luar biasa:

Masker
Semua yang Anda benar-benar perlukan untuk perawatan wajah di rumah adalah masker yang baik dan cocok dengan jenis kulit Anda. Kulit memiliki kebutuhan yang berbeda-beda dari hari ke hari. Milikilah jenis masker berbeda sebagai pengganti, tergantung pada bagaimana kulit merasakan dan membutuhkan. Masker sebenarnya dapat dilakukan setiap hari, tetapi jika Anda tidik memiliki cukup waktu, satu atau dua kali seminggu cukup.
Berdiri Tegap
Berdiri tegap dan memiliki postur yang baik dapat membuat Anda tampil percaya diri dan elegan. Anggapan umum postur yang baik adalah dagu yang lebih kecil, leher lebih panjang dan perut yang lebih rata.
Istirahat
Tidak ada penampilan yang lebih jelek selain kekurangan tidur. Anda akan terlihat lebih baik jika Anda mendapat waktu tidur yang cukup. Tidur penting untuk memelihara tekstur, warna dan kesehatan kulit yang baik.
Lupakan Make-up
Tidak memakai make-up tidak hanya memberikan kulit bernapas dengan bebas tetapi juga membantu berhasilnya tampil cantik alami. Anda akan terkejut dengan apa yang Anda dapatkan jika Anda melakukan penilaian yang segar dari wajah Anda. Mata akan terlihat lebih dalam tanpa shadow, pipi terlihat lebih segar tanpa pemerah dan kulit bersinar tanpa alas bedak.
Jangan mamakai produk kecantikan berlebihan. Make-up dan banyak produk kecantikan yang membuat kulit menjadi iritasi padahal Anda telah membayar mahal untuk produk tersebut, terutama ketika Anda memiliki kulit sensitif.
Cobalah untuk menghentikan beberpa produk selama satu atau dua minggu. Anda mungkin akan heran menemukan kulit yang bersih dan akhirnya Anda menyadari produk tertentu dapat membuat kulit iritasi.
Minum
Minuman yang di maksud di sini adalah air putih. Usahakan dalam sehari minimaal 2 liter air putih untuk di minum.Air disini sangat berfungsi untuk mengeluarkan racun racun yang ada di dalam tubuh melalui air kencing sebagai pembuangannya.
Tertawa
Tertawa dikenal sebagai obat terbaik, tetapi juga pendorong tampil cantik yang hebat, dapat memberikan cahaya di mata, membuat pipi merah dan mulut menengadah.
Guyonan yang spontan bersama teman atau nonton komedi akan membawa dampak baik pada wajah. Senyumlah pada tetangga atau orang lain, Anda akan terkejut betapa jauh lebih baik penampilan Anda. (sut, berbagai sumber)

http://thomp.blogdetik.com/2011/03/31/rahasia-tampil-cantik-alami/ 


0 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Posts by : Admin

Pengertian, Peran, dan Fungsi Perpustakaan

Pengertian, Peran, dan Fungsi Perpustakaan

 

Pada zaman global sekarang, pendidikan merupakan sesuatu yang penting. Karena pendidikan merupakan akar dari peradaban sebuah bangsa. Pendidikan sekarang telah menjadi kebutuhan pokok yang harus dimiliki setiap orang agar bisa menjawab tantangan kehidupan.Untuk memperoleh pendidikan, banyak cara yang dapat kita capai. Diantaranya melalui perpustakaan. Karena di perpustakaan berbagai sumber informasi bisa kita peroleh, selain itu banyak juga manfaat lain yang dapat kita peroleh melalui perpustakaan.
Ketika kita mendengar kata perpustakaan, dalam benak kita langsung terbayang sederetan buku-buku yang tersusun rapi di dalam rak sebuah ruangan. Pendapat ini kelihatannya benar, tetapi kalau kita mau memperhatikan lebih lanjut, hal itu belumlah lengkap. Karena setumpuk buku yang diatur di rak sebuah toko buku tidak dapat disebut sebagai sebuah perpustakaan.
Memang pengertian perpustakaan terkadang rancu dengan dengan istilah – istilah pustaka, pustakawan, kepustakawanan, dan ilmu perpustakaan. Secara harfiah, perpustakaan sendiri masih dipahami sebagai sebuah bangunan fisik tempat menyimpan buku – buku atau bahan pustaka. Untuk itu, pada pembahasan kali ini akan dikupas secara mendalam tentang pengantar umum perpustakaan yang meliputi : pengertian perpustakaan, maksud dan tujuan pendirian perpustakaan, jenis – jenis perpustakaan, peranan, tugas, dan funsi perpustakaan, aktifitas pokok perpustakaan, dan perpustakaan sebagai disiplin ilmu.
Pengertian Perpustakaan
Perpustakaan diartikan sebuah ruangan atau gedung yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu yang digunakan pembaca bukan untuk dijual    ( Sulistyo, Basuki ; 1991 ).
Ada dua unsur utama dalam perpustakaan, yaitu buku dan ruangan. Namun, di zaman sekarang, koleksi sebuah perpustakaan tidak hanya terbatas berupa buku-buku, tetapi bisa berupa film, slide, atau lainnya, yang dapat diterima di perpustakaan sebagai sumber informasi. Kemudian semua sumber informasi itu diorganisir, disusun teratur, sehingga ketika kita membutuhkan suatu informasi, kita dengan mudah dapat menemukannya.
Dengan memperhatikan keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa perpustakaan adalah suatu unit kerja yang berupa tempat menyimpan koleksi bahan pustaka yang diatur secara sistematis dan dapat digunakan oleh pemakainya sebagai sumber informasi. ( Sugiyanto )
Menurut RUU Perpustakaan pada Bab I pasal 1 menyatakan Perpustakaan adalah institusi yang mengumpulkan pengetahuan tercetak dan terekam, mengelolanya dengan cara khusus guna memenuhi kebutuhan intelektualitas para penggunanya melalui beragam cara interaksi pengetahuan.
Perpustakaan adalah fasilitas atau tempat menyediakan sarana bahan bacaan. Tujuan dari perpustakaan sendiri, khususnya perpustakaan perguruan tinggi adalah memberikan layanan informasi untuk kegiatan belajar, penelitian, dan pengabdian masyarakat dalam rangka melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi (Wiranto dkk,1997).
Secara umum dapat kami simpulkan bahwa pengertian perustakaan adalah suatu institusi unit kerja yang menyimpan koleksi bahan pustaka secara sistematis dan mengelolanya dengan cara khusus sebagai sumber informasi dan dapat digunakan oleh pemakainya.
Namun, saat ini pengertian tradisional dan paradigma lama mulai tergeser seiring perkembangan berbagai jenis perpustakaan, variasi koleksi dalam berbagai format memungkinkan perpustakaan secara fisik tidak lagi berupa gedung penyimpanan koleksi buku.
Banyak kalangan terfokus untuk memandang perpustakaan sebagai sistem, tidak lagi menggunakan pendekatan fisik. Sebagai sebuah sistem perpustakaan terdiri dari beberapa unit kerja atau bagian yang terintergrasikan melalui sistem yang dipakai untuk pengolahan, penyusunan dan pelayanan koleksi yang mendukung berjalannya fungsi – fungsi perpustakaan.
Perkembangannya menempatkan perpustakaan menjadi sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya. Dari istilah pustaka, berkembang istilah pustakawan, kepustakaan, ilmu perpustakaan, dan kepustakawanan yang akan dijelaskan sebagai berikut :
1. Pustakawan : Orang yang bekerja pada lembaga – lembaga perpustakaan atau yang sejenis dan memiliki pendidikan perpustakaan secara formal.
2. Kepustakaan : Bahan – bahan yang menjadi acuan atau bacaaan dalam menghasilkan atau menyusun tulisan baik berupa artikel, karangan, buku, laporan, dan sejenisnya.
3. Ilmu Perpustakaan : Bidang ilmu yang mempelajari dan mengkaji hal – hal yang berkaitan dengan perpustakaan baik dari segi organisasi koleksi, penyebaran dan pelestarian ilmu pengetahuan teknologi dan budaya serta jasa- jasa lainnya kepada masyarakat, hal lain yang berkenaan dengan jasa perpustakaan dan peranan secara lebih luas.
4. Kepustakawanan : Hal – hal yang berkaitan dengan upaya penerapan ilmu perpustakaan dan profesi kepustakawanan.
B. Maksud dan Tujuan Pendirian Perpustakaan
Aktifitas utama dari perpustakaan adalah menghimpun informasi dalam berbagai bentuk atau format untuk pelestarian bahan pustaka dan sumber informasi sumber ilmu pengetahuan lainnya. Maksud pendirian perpustakaan adalah :
Menyediakan sarana atau tempat untuk menghimpun berbagai sumber informasi untuk dikoleksi secara terus menerus, diolah dan diproses.
Sebagai sarana atau wahana untuk melestarikan hasil budaya manusia ( ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya ) melalui aktifitas pemeliharaan dan pengawetan koleksi.
Sebagai agen perubahan ( Agent of changes ) dan agen kebudayaan serta pusat informasi dan sumber belajar mengenai masa lalu, sekarang, dan masa akan datang. Selain itu, juga dapat menjadi pusat penelitian, rekreasi dan aktifitas ilmiah lainnya.
Tujuan pendirian perpustakaan untuk menciptakan masyarakat terpelajar dan terdidik, terbiasa membaca, berbudaya tinggi serta mendorong terciptanya pendidikan sepanjang hayat ( Long life education ).
C. Jenis – Jenis Perpustakaan
Jenis – jenis perpustakaan yang ada dan berkembang di Indonesia menurut penyelenggaraan dan tujuannya dibedakan menjadi :
Perpustakaan Digital adalah Perpustakaan yang berbasis teknologi digital atau mendapat bantuan komputer dalam seluruh aktifitas di perpustakaannya secara menyeluruh. Contohnya : Buku atau informasi dalam format electiric book, piringan, pita magnetik, CD atau DVD rom.
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, selanjutnya disebut Perpustakaan Nasional, adalah Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) yang melaksanakan tugas pemerintahan di bidang perpustakaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang berkedudukan di Ibukota Negara.
Perpustakaan Provinsi adalah Lembaga Teknis Daerah Bidang Perpustakaan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Provinsi yang mempunyai tugas pokok melaksanakan pengembangan perpustakaan di wilayah provinsi serta melaksanakan layanan perpustakaan kepada masyarakat.
Perpustakaan Kabupaten/Kota adalah Lembaga Teknis Daerah Bidang Perpustakaan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota, yang mempunyai tugas pokok melaksanakan pengembangan perpustakaan di wilayah Kabupaten/Kota serta melaksanakan layanan perpustakaan kepada masyarakat umum.
Perpustakaan Umum : Perpustakaan yang ada di bawah lembaga yang mengawasinya. Perpustakaan umum terbagi atas :
Perpustakaan Umum Kecamatan, adalah Perpustakaan yang berada di Kecamatan sebagai cabang layanan Perpustakaan Kabupaten/Kota yang layanannya diperuntukkan bagi masyarakat di wilayah masing-masing.
Perpustakaan Umum Desa/Kelurahan adalah perpustakaan yang berada di Desa/Kelurahan sebagai cabang layanan Perpustakaan Kabupaten/Kota yang layanannya diperuntukkan bagi masyarakat di desa/kelurahan masing-masing.
Perpustakaan Khusus : Perpustakaan yang diperuntukkan untuk koleksi- koleksi tokoh terkenal. Contohnya : Perpustakaan Bung Hatta.
Perpustakaan lembaga Pendidikan : Perpustakaan yang berada di lingkungan lembaga pendidikan (SD, SMP, SMA, PT, dan LSM). Contohnya : perpustakaan Universitas. Pada perpustakaan tingkat PT, perpustakaan dapat dibagi kembali menjadi dua, yaitu : perpustakaan pusat dan perpustakaan tingkat fakultas.
Perpustakaan Lembaga Keagamaan : Perpustakaan yang berada di lingkungan lembaga keagamaan. Contohnya : Perpustakaan Masjid, perpustakaan Gereja, dll
Perpustakaan Pribadi : Perpustakaan yang diperuntukkan untuk koleksi sendiri dan dipergunakan dalam ruang lingkup yang kecil. Contohnya : Perpustakaan keluarga.
D. Peranan, Tugas, dan Fungsi Perpustakaan
Peranan Perpustakaan
Setiap perpustakaan dapat mempertahankan eksistensinya apabila dapat menjalankan peranannya. Secara umum peran – peran yang dapat dilakukan adalah :
Menjadi media antara pemakai dengan koleksi sebagai sumber informasi pengetahuan.
Menjadi lembaga pengembangan minat dan budaya membaca serta pembangkit kesadaran pentingnya belajar sepanjang hayat.
Mengembangkan komunikasi antara pemakai dan atau dengan penyelenggara sehingga tercipta kolaborasi, sharing pengetahuan maupun komunikasi ilmiah lainnya.
Motivator, mediator dan fasilitator bagi pemakai dalam usaha mencari, memanfaatkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan pengalaman.
Berperan sebagai agen perubah, pembangunan dan kebudayaan manusia.
Tugas Perpustakaan
Setiap perpustakaan memiliki kewajiban yang sudah ditentukan dan direncanakan untuk dilaksanakan. Tugas setiap jenis perpustakaan berbeda – beda sesuai dengan kewajiban yang ditetapkan.
Fungsi Perpustakaan
Pada umumnya perpustakaan memiliki fungsi yaitu :
Fungsi penyimpanan, bertugas menyimpan koleksi (informasi) karena tidak mungkin semua koleksi dapat dijangkau oleh perpustakaan.
Fungsi informasi, perpustakaan berfungsi menyediakan berbagai informasi untuk masyarakat.
Fungsi pendidikan, perpustakaan menjadi tempat dan menyediakan sarana untuk belajar baik dilingkungan formal maupun non formal.
Fungsi rekreasi, masyarakat dapat menikmati rekreasi kultural dengan membaca dan mengakses berbagai sumber informasi hiburan seperti : Novel, cerita rakyat, puisi, dan sebagainya.
Fungsi kultural, Perpustakaan berfungsi untuk mendidik dan mengembangkan apresiasi budaya masyarakat melalui berbagai aktifitas, seperti : pameran, pertunjukkan, bedah buku, mendongeng, seminar, dan sebagainya.
Hal-hal yang Menghambat Fungsi Perpustakaan Sekolah
Perjalanan perpustakaan sekolah tidaklah semulus yang diharapkan. Ada beberapa hal yang sering menghambat fungsi perpustakaan sekolah. Pertama, terbatasnya ruang perpustakaan di samping letaknya yang kurang strategis. Banyak perpustakaan yang hanya menempati ruang sempit, dengan tanpa memperhatikan kesehatan dan kenyamanan. Kesadaran dari pihak sekolah sebagai penyelenggara sangatlah kurang. Perpustakaan hanyalah untuk menyimpan koleksi bahan pustaka saja. Pengunjung tidak merasa nyaman membaca buku di perpustakaan, sehingga perpustakaan dipandang sebagai tempat yang kurang bermanfaat. Dengan melihat keadaan di atas sepertinya pihak sekolah kurang menyadari tentang pentingnya perpustakaan. Keberadaan perpustakaan hanyalah untuk pelengkap saja.
Kedua, keterbatasan bahan pustaka, baik dalam hal jumlah, variasi maupun kualitasnya. Keberadaan bahan-bahan pustaka yang bermutu dan bervariasi sangatlah penting. Dengan banyaknya variasi bahan pustaka, anak akan semakin senang berada di perpustakaan, kegemaran membaca dapat tumbuh dengan subur sehingga kemampuan bahasa siswa dapat berkembang baik dan dapat membantu anak dalam memahami pelajaran-pelajaran lainnya. Mengingat kemampuan bahasa merupakan kemampuan dasar yang sangat berpengaruh dalam belajar. Begitu juga jika bahan pustakanya bermutu, maka anak akan banyak memperoleh pengetahuan yang berguna dalam hidupnya. Namun, untuk mengadakan bahan pustaka yang banyak dan bervariasi dibutuhkan dana yang sangat besar, mengingat harga bahan pustaka biasanya mahal, lebih-lebih jika bahan pustaka tersebut bermutu. Namun, dari pihak sekolah sendiri sering kurang berusaha untuk menambah koleksi bahan pustaka, dengan alasan utama adalah mahalnya harga bahan pustaka. Padahal, anggaran untuk belanja bahan pustaka setiap tahunnya selalu ada, namun jumlah bahan pustaka tidak pernah bertambah.
Ketiga, terbatasnya jumlah petugas perpustakaan (pustakawan). Banyak perpustakaan sekolah yang tidak ada petugasnya, atau hanya tugas sambilan. Maksudnya, mereka bukan petugas yang hanya mengurus perpustakaan saja, sehingga sering tugas di perpustakaan jadi dikesampingkan dan perpustakaan dianggap kurang bermanfaat. Lebih-lebih bertugas di perpustakaan adalah pekerjaan yang sangat menjenuhkan, baik dalam hal pelayanan pengunjung maupun perawatan bahan pustaka yang ada, sehingga dibutuhkan suatu kesabaran yang tinggi.
Keempat, kurangnya promosi penggunaan perpustakaan menyebabkan tidak banyak siswa yang mau memanfaatkan jasa layanan perpustakaan. Anak kurang tahu tentang kegunaan perpustakaan, begitu juga dengan bahan pustakanya. Dia membutuhkan dorongan dan ajakan untuk berkunjung ke perpustakaan.
Aktivitas Pokok Perpustakaan
Untuk mencapai visi, misi, dan tujuannya perpustakaan menjalankan aktifitas – aktifitas pokok meliputi : pengembangan, pengolahan, dan pelayanan koleksi.
Perkembangan Disiplin Ilmu Perpustakaan
Cara melihat sesuatu sebagai disiplin ilmu (Scwab,. 1990;7)
Subyek kajian
aplikasi dan kapasitas
metode
hasil akhir
Ilmu perpustakaan dan informasi menurut Syhabuddin Qolyabu (2003; 63) diartikan sebagai ilmu yang mempelajari dan mengkaji rekaman informasi, struktur, dinamika dan transferan informasi, cara memperoleh, mencatat, menyimpan dan menemukankembali untuk didayagunakan dan didistribusikan.
Ilmu perpustakaan dapat dikatakan sebagai disiplin dapat dilihat dari tiga dimensi, yaitu produk, proses dan masyarakat (Daoed Joesoef 1987). Disiplin ilmu menurut Thomson sebagai body of knowledge, sekelompok konsep yang diajarkan bersama.
Perpustakaan dipandang sebagai ilmu dari tiga aspek yaitu :
1. Ontologis, ilmu perpustakaan dapat dikaji dari definisi dan obyek yang menjadi kajiannya.
2. Epistemologis, bahwa ilmu perpustakaan memiliki kerangka pemikiran logis dan konsisten dengan argumen yang tersusun sebelumnya, menjabarkan hipotesisi sebagai deduksi kerangka pemikirannya, dan melakukan falsifikasi dan verifikasi atas hipotesisi dan mengujinya secara faktual.
3. Aksiologis, bahwa terbukti ilmu perpustakaan telah membawa kemaslahatan bagi umat manusia.
Dengan demikian ilmu perpustakaan dapat berdiri sebagai disiplin ilmu tersendiri. Saat ini perkembangannya terpengaruhi oleh banyak bidang ilmu namun syarat-syarat diatas bisa terpenuhi.
operator internet
roni sambas

http://warintek08.wordpress.com/tes/


0 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Posts by : Admin

Membudayakan Membaca

“Membudayakan Membaca”


Kita semua tentu sangat familiar dengan pribahasa “Buku adalah jendela dunia”, sebuah peribahasa yang mencoba mendobrak budaya malas membaca. Padahal jika kita cermat dan mau membunuh rasa malas tersebut, ada banyak tumpukan buku di perpustakaan yang dapat dibaca secara cuma-cuma, terlebih kini telah ada perpustakaan keliling sebagai alternatif lain. Dapat kita pahami, bahwanya masyarakat belum mengerti akan esensi membaca. Padahal dengan membaca kita akan menjadi manusia yang tahu dan bukan menjadi manusia yang sok tahu. Membaca buku adalah pelatihan diri yang hebat, penuh dengan teknik yang bermanfaat dan sumber inspirasi untuk meraih kehidupan yang kita inginkan.   Cobalah untuk tidak hanya membaca tapi juga mempelajari dengan seksama. Kaji lah setiap buku yang kita baca, pelajari konsep-konsep yang terkandung didalamnya kemudian berusahalah untuk mengaplikasikannya dalam setiap aspek kehidupan kita, telebih saat ini telah banyak buku sangat relevan dengan tujuan hidup manusia. Dengan begitu kita akan menemukan sinergi antara nilai buku yang kita baca dengan kualitas kehidupan kita. Kita akan merasakan kenikmatan seni membaca dan ini akan menjadikan membaca sebagai sebuah kebiasaan yang akan membuat kita merasa ketergantungan akan membaca. Kebiasaan yang sangat menguntungkan dan mendatangkan banyak manfaat.

Ada beberapa cara untuk menemukan inti dari apa yang kita baca sehingga kita mendapatkan manfaat membaca, yaitu :
1. Membaca dan mengkaji secara individual. Maksudnya cobalah mensisihkan waktu untuk membaca, memahami konsep-konsep yang terkandung didalamnya dan coba komentari lalu coba aplikasikan dalam kehidupan nyata.
2. Membaca dan mengkaji secara kolektif, hal ini bisa kita lakukan bersama rekan/teman. mendiskusikan nilai-nilai yang terkandung didalam buku yang kita baca dengan tidak memasung analisa masing-masing individu, karena dengan begitu pesan yang disampaikan penulis dalam buku.

Budayakan Membaca 

0 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Rabu, 17 Agustus 2011

Posts by : Admin

Uji Realibilitas Instrumen

Uji Realibilitas Instrumen

Quantcast
Realibilitas tes merupakan ukuran sejauh mana alat ukur tersebut memberikan gambaran yang benar-benar dapat dipercaya tentang kemampuan seseorang. Suatu tes dikatakan memiliki tingkat realibilitas yang tinggi apabila pengukuran yang dilakukan secara berulang-ulang dengan tes tersebut terhadap subjek yang sama akan memberikan hasil yang sama atau mendekati sama. 
Teknik yang digunakan untuk menentukan realibilitas tes uraian  dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan rumus Alpha, yaitu: r11 


Keterangan:
  •  r11 = realibilitas yang dicari.
  • = jumlah varians skor tiap-tiap item.
  • = varians total.
Dimana:
           
Keterangan:
  • = varians total.
  • ∑X2 = jumlah kuadrat skor total.
  • (∑X)2= kuadrat jumlah skor total.
  • N= jumlah peserta tes.

http://biologypedia.wordpress.com/2011/01/30/uji-realibilitas-instrumen/ 
1 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Minggu, 14 Agustus 2011

Posts by : Admin

Analisis Soal

Salah satu instrumen perangkat pembelajan (selain Silabus dan RPP) adalah soal. Soal-soal tersebut digunakan untuk melakukan uji kompetensi terhadap suatu mata pelajaran dan atau Kompetensi Dasar (KD). Sedangkan analisis soal dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kelayakan soal untuk diujikan; apakah soal tersebut dapat diterima, perlu direvisi, atau bahkan tidak dapat digunakan sama sekali.
Pada umumnya analisis soal dilakukan melalui 2 (dua) cara, yaitu:

1. Analisis Kualitatif
Yaitu berupa penelaahan yang dimaksudkan untuk menganalisis soal ditinjau dari segi teknis, isi, dan editorial.
  • Analisis secara teknis dimaksudkan sebagai penelaahan soal berdasarkan prinsip-prinsip pengukuran dan format penulisan soal.
  • Analisis secara isi dimaksudkan sebagai penelaahan khusus yang berkaitan dengan kelayakan pengetahuan yang ditanyakan.
  • Analisis secara editorial dimaksudkan sebagai penelaahan yang khususnya berkaitan dengan keseluruhan format dan keajegan editorial dari soal yang satu ke soal yang lainnya.
Analisis kualitatif lainnya dapat juga dikategorikan dari segi materi, konstruksi, dan bahasa. Analisis materi dimaksudkan sebagai penelaahan yang berkaitan dengan substansi keilmuan yang ditanyakan dalam soal serta tingkat kemampuan yang sesuai dengan soal. Analisis konstruksi dimaksudkan sebagai penelaahan yang umumnya berkaitan dengan teknik penulisan soal. Analisis bahasa dimaksudkan sebagai penelaahan soal yang berkaitan dengan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar menurut EYD. Analisis kualitatif sering pula dinamakan sebagai validitas logis (logical validity) yang dilakukan sebelum soal digunakan.

2. Analisis Kuantitatif
Analisis kuantitatif berfungsi untuk mengetahui sejauh mana soal yang dibuat dapat membedakan antara peserta ujian yang kemampuannya tinggi dengan peserta tes dengan kemampuannya rendah. Analisis soal secara kuantitatif sering pula dinamakan sebagai validitas empiris (empirical validity) yang dilakukan untuk melihat lebih berfungsi tidaknya sebuah soal setelah soal itu diujicobakan kepada sampel yang representatif.
HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM MEMBUAT SOAL
1. Membuat kartu soal
Kartu soal merepresentasikan SK/KD maupun indikator yang akan diujikan; termasuk akan dimasukkan kenomor berapa dan dalam bentuk apa (uraian atau pilihan ganda). 
DOWNLOAD CONTOH KARTU SOAL

2. Membuat kisi-kisi soal
Kisi-kisi soal adalah gambaran soal yang akan diujikan. Dalam kisi-kisi biasanya terdapat nama SK/KD, jumlah soal, bentuk soal (pilihan ganda dan atau uraian), tingkat kesulitan (mudah, sukar, sedang) dan aspek kognitif (ingatan, pemahaman, analisis) dengan prosentase tertentu.
DOWNLOAD CONTOH KISI-KISI

3. Butir soal
Yang terdapat dalam butir soal, selain uraian pertanyaan adalah keterangan berupa tingkat kesulitan dan aspek kognitif soal.
DOWNLOAD CONTOH BUTIR SOAL

4. Kunci jawaban
Kunci jawaban harus dibuat, terutama jika yang mengoreksi soal bukan orang yang membuat soal.
DOWNLOAD KUNCI JAWABAN

5. Norma penilaian
Norma penilaian digunakan untuk menentukan poin atau nilai tiap butir soal.
DOWNLOAD CONTOH NORMA PENILAIAN

Perlu diketahui bahwa contoh kartu soal, kisi-kisi, butir soal, kunci jawaban dan norma penilaian tersebut merupakan satu kesatuan dari soal KKPI kelas X semester 2.

http://itusudah.com/analisis-soal/


1 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Posts by : Admin

Makalah Teknik Pengumpulan Data Tes

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mempunyai tujuan, tujuan tersebut dinyatakan dalam rumusan kemampuan atau perilaku yang diharapkan dimiliki siswa setelah menyelesaikan kegiatan belajar. Untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pengajaran serta kualitas proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan, perlu dilakukan suatu usaha penilaian atau evaluasi terhadap hasil belajar siswa. Kegunaan evaluasi adalah untuk mengetahui seberapa jauh siswa telah menguasai tujuan pelajaran yang telah ditetapkan, juga dapat mengetahui bagian-bagian mana dari program pengajaran yang masih lemah dan perlu diperbaiki.
Salah satu cara yang digunakan dalam evaluasi diantaranya dengan menggunakan teknik pengumpulan data tes, melalui tes kita dapat mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam menerima pelajaran yang telah diberikan. Mengingat pentinganya tes dalam evaluasi maka pemakalah ingin mengambil tema “Teknik Pengumpulan Data Tes”.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah tes itu?
2. Apa saja bentuk-bentuk tes itu?
3. Apakah kelebihan dan kekurangan masing-masing tes?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Tes
Tes secara harfiah berasal dari bahasa perancis kuno “testum” artinya piring untuk menyisihkan logam-logam mulia. Tes adalah serangkaian pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan, kecerdasan, kemampuan, atau bakat yang dimiliki seseorang atau kelompok.
Tes juga dapat didefinisikan sebagai himpunan pertanyaan yang harus dijawab atau pertanyaan yang harus dipilih dengan tujuan untuk mengukur aspek perilaku tertentu dari orang yang dikenai tes.
Biasanya dalam kegiatan proses belajar mengajar, murid diberikan sejumlah pertanyaan atau tugas dari guru. Pertanyaan tersebut dapat dalam bentuk pertanyaan dikelas, tugas pekerjaan rumah (PR), atau bentuk lain yang tujuannya untuk mendapatkan informasi tertentu, sesuai dengan isi tugas yang ada. Tindakan yang demikina itu merupakan bentuk-bentuk tes tulis.
B. Bentuk-bentuk Tes
Bentuk tes yang sering dipakai dalam proses belajar mengajar pada hakikatnya dapat dikelompokkan menjadi tiga bentuk, yaitu :
1. Tes tertulis (written tes) : suatu tes yang menuntut siswa memberikan jawaban secara tertulis . Tes tertulis mempunyai 2 macam:
a. Tes obyektif: tes tertulis yang menuntut siswa memilih jawaban yang telah disediakan atau memberikan jawaban singkat terbatas.
Tes ini dibuat sedemikian rupa, sehingga hasil tes tersebut dapat dinilai secara obyektif, dinilai oleh siapapun akan menghasilkan nilai yang sama. Tes objektif jawabannya ringkas dan pendek (short answer test).
Bentuk bentuk tes obyektif ini adalah :
(1) Bentu benar salah (true false)
Contoh : Lingkarilah B bila pertanyaan ini benar, atau S bila pertanyaan tersebut salah.
B-S Hukum memberi hadiah adalah sunah muakkad.
(2) Bentuk pilihan ganda ( multiple choice)
Contoh : berilah tanda (x) huruf a, b, c, d pada jawaban yang benar!
Wajib megerjakan ibadah haji bagi orang yang…………
a. Tua c. kaya
b. Mampu d. suka
(3) Bentuk menjodohkan (matching)
Contoh : Jodohkan soal bagian A dan B
Bagian A
- Beragama islam
- Berdiri bagi yang kuasa
- Menahan keluarnya hadast Bagian B
- makruh dalam sholat
- Rukun dalam sholat
- syarat dalam sholat
- sunnah dalam sholat
(4) Bentuk melengkapi (completion)/jawaban singkat
Contoh : umrah sering disebut dengan…………….
Presiden RI saat ini ialah………………..
b. Tes Subjektif/Essai : tes tertulis yang meminta siswa memberikan jawaban berupa uraian atau kalimat yang panjang-panjang. Panjang pendeknya tes essai adalah relatif, sesuai kemampuan si penjawab tes.
Bentuk-bentuk tes subjektif ini adalah :
(1) Essai bebas, yakni tes yang soal-soalnya harus dijawab dengan uraian secara bebas. Sesuai dengan apa yang diketahuinya.
Contoh : Apa yang terjadi apabila pemerintahan suatu negara dipimpin oleh seorang diktator?
Kelemahan dalam bentuk ini adalah sukar menentukan standar jawaban yang benar sebab jawaban siswa sifatnya beraneka ragam.
(2) Essai terbatas, yakni yang soalnya menuntut jawaban dalam bentuk uraian yang telah terarah. Tes uaraian ini lebih mudah memeriksanya, karena dapat lebih mudah ditetapkan standar jawaban yang benar.
Contoh : Sebutkan ciri-ciri seorang pemimpin yang bersifat diktator?
2. Tes Lisan (oral test) : Tes lisan sangat bermanfaat untuk mengukur aspek yang terkait dengan kemampuan komunikasi. Tes lisan juga dapat digunakan untuk menguji siswa baik secara individual ataupun kelompok.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan tes lisan :
a. Janganlah guru membentak siswa karena siswa itu memberikan jawaban yang menurut penilaian guru merupakan jawaban yang salah.
b. Jangan pula ada kecenderungan untuk membantu seorang murid yang sedang dites dengan memberikan kunci-kunci jawaban tertentu karena kita merasa kasihan atau simpati pada murid itu.
Contoh bentuk tes lisan :
Guru dikelas bertanya pada siswanya :
“sebutkan Rukun-rukun dalam sholat!”
3. Tes Perbuatan : Digunakan untuk mengukur hsil belajar yang menyangkut domain ketrampilan (skill) atau perilaku (behavior). Tes perbuatan bisa berupa tulis dan lisan. Tes ini juga dapat digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa, baik secara individual maupun secara kelompok. Contoh : siswa diminta memperagakan tata cara pelaksanaan sholat jenazah beserta bacaannya.
C. Kelebihan dan kekurangan masing-masing tes
1. Tes tulis
Tes obyektif Tes Subyektif
1. Dapat mencakup ruang lingkup materi yang luas
2. Pemeriksaannya cepat dan obyektif
3. Siswa dapat menebak jawaban
4. Dalam menyusun soal lebih sulit
5. Yang diukur cenderung aspek kognitif tingkat rendah
6. Tidak menuntut penalaran siswa
7. Tidak membutuhkan pemikiran analistis maupun sistematis 1. Cakupan materi terbatas atau sempit
2. Pemeriksaan cenderung lama dan subyektif
3. Siswa tidak dapat menebak jawaban
4. Dalam menyusun soal lebih mudah
5. Yang diukur cenderung tingkat kecerdasan kognitif tinggi
6. Menuntut penalaran siswa
7. Dapat melatih siswa berfikir logis, analistis, dan sistematis
Ket : apa yang menjadi kelebihan dalam tes objektif merupakan kelemahan dalam tes subjektif dan sebaliknya.
2. Tes lisan
- Kelebihan tes lisan adalah : Bisa mengetahui kemampuan siswa dalam mengemukakan pendapat secara langsung dan dapat diketahui penguasaan siswa secara tepat.
- Kelemahan tes lisan adalah : Membutuhkan waktu yang relatif lama, dan seringkali siswa kurang bebas dalam mengemukakan pendapat.
3. Tes perbuatan
- Kelebihan tes perbuatan yakni : Merupakan alat paling tepat terbentuk atau tidaknya ketrampilan yang dirumuskan dalam tujuan pembelajaran. Tes perbuatan juga dapat membantu pergantian suasana sehingga kejenuhan dapat dikurangi atau dihilangakan.
- Kelemahan tes perbuatan yakni : Tidak semua bahan ajaran dapat diungkap dengan tes perbuatan. Tes perbuatan juga membutuhkan banyak waktu, tenaga, dan biaya yang cukup banyak.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Tes juga dapat didefinisikan sebagai himpunan pertanyaan yang harus dijawab atau pertanyaan yang harus dipilih dengan tujuan untuk mengukur aspek perilaku tertentu dari orang yang dikenai tes
2. Bentuk tes yang sering dipakai dalam proses belajar mengajar pada hakikatnya dapat dikelompokkan menjadi tiga bentuk, yaitu :
a. Tes tertulis (written tes) : suatu tes yang menuntut siswa memberikan jawaban secara tertulis. Tes tertulis mempunyai 2 macam:
(a) Tes obyektif
(b) Tes Subjektif/Essai
b. Tes Lisan (oral test) : Tes lisan sangat bermanfaat untuk mengukur aspek yang terkait dengan kemampuan komunikasi. Tes lisan juga dapat digunakan untuk menguji siswa baik secara individual ataupun kelompok.
c. Tes Perbuatan : Digunakan untuk mengukur hasil belajar yang menyangkut domain ketrampilan (skill) atau perilaku (behavior)
3. Kelebihan dan Kekurangan
a. Tes Tulis
Tes obyektif : Pemeriksaannya cepat dan obyektif, Siswa dapat menebak jawaban
Tes Subyektif : Pemeriksaan cenderung lama dan subyektif Siswa tidak dapat menebak jawaban
b. Tes lisan
Kelebihan tes lisan adalah : Bisa mengetahui kemampuan siswa dalam mengemukakan pendapat secara langsung dan dapat diketahui penguasaan siswa secara tepat.
Kelemahan tes lisan adalah : Membutuhkan waktu yang relatif lama, dan seringkali siswa kurang bebas dalam mengemukakan pendapat
c. Tes Perbuatan
Kelebihan tes perbuatan yakni : Merupakan alat paling tepat terbentuk atau tidaknya ketrampilan yang dirumuskan dalam tujuan pembelajaran. Tes perbuatan juga dapat membantu pergantian suasana sehingga kejenuhan dapat dikurangi atau dihilangakan.
Kelemahan tes perbuatan yakni : Tidak semua bahan ajaran dapat diungkap dengan tes perbuatan. Tes perbuatan juga membutuhkan banyak waktu, tenaga, dan biaya yang cukup banyak.
REFERENSI
Athok Fuadi, Sistem Pengembangan Evaluasi, ponorogo : press, 2006
Harjanto, Perencanaan Pengajaran, jakarta : PT Rineka Cipta, 1997
R. Ibrahim, Nana Syaodih S., Perencanaan Pengajaran, Jakarta : Rineka Cipta, 1995
http://gurupkn.wordpress.com/2008/01/17/evaluasi-pembelajaran/
http://mukhyar.blogspot.com/2007/11/resensi-evaluasi-pendidikan.html
0 komentar
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
« Postingan Lebih Baru Postingan Lama » Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

Selamat Datang

SELAMAT DATANG DI BLOG RACHMAT RUSLI

Daftar Link Blog

  • Desain Blog
  • Download by Almunawir, S.Kom
  • Elisya Maranti
  • KHS UNBARA TP
  • LDII OKU Induk
  • Universitas Baturaja
  • vivanews
  • Yunus Andrian

Blog Archive

  • ▼  2011 (20)
    • ▼  Desember (1)
      • INSTRUMEN PENELITIAN
    • ►  September (6)
    • ►  Agustus (3)
    • ►  Juli (5)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (1)
Diberdayakan oleh Blogger.

Entri Populer

  • Membudayakan Membaca
    “Membudayakan Membaca” Kita semua tentu sangat familiar dengan pribahasa “Buku adalah jendela dunia”, sebuah peribahasa yang mencoba m...
  • Pengertian, Peran, dan Fungsi Perpustakaan
    Pengertian, Peran, dan Fungsi Perpustakaan   Pada zaman global sekarang, pendidikan merupakan sesuatu yang penting....
  • Tips Meredakan Stress
    Tips Meredakan Stress By : Rachmat RusLi   Tips Kesehatan <div class="greet_block wpgb_cornered">&a...
  • Uji Realibilitas Instrumen
    Uji Realibilitas Instrumen Realibilitas tes merupakan ukuran sejauh mana alat ukur tersebut memberikan ...

Mengenai Saya

Foto saya
Tentang Pendidikan
Selalu Optimis Berusaha & Berdo'a ....
Lihat profil lengkapku

Lencana Foto

Rachmat RusLi

Buat Lencana Anda

Kalender


Free Blog Content

Pengikut

animasi cursor

animasi

Widget Animasi
Design by Wp Templates.

Buy My Themes and Designed By TM.

Copyright (c) 2011 Tentang Pendidikan
Powered by Blogger.